Rencana Pemindahan IKN Tidak Berpengaruh Signifikan Terhadap
Potensi Penumpang KCJB

Jakarta, 12 Februari 2022 | PT KCIC menggandeng Polar UI untuk melakukan riset Demand
Forecast penumpang Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Riset ini dilakukan untuk mengetahui
kondisi terkini tingkat permintaan dan prediksi penumpang Kereta Cepat Jakarta-Bandung
setelah adanya Pandemi Covid melanda negara kita dan adanya beberapa perubahan asumsi
menyesuaikan dengan kondisi yang ada.
Dalam riset Demand Forecast yang dilakukan Polar UI di tahun 2021, diketahui jika
penumpang harian KCJB mencapai lebih dari 30 ribu. Angka ini cukup baik meski memang
menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan hasil riset yang dilakukan sebelumnya tim
LAPI ITB di awal proyek.
Pada hasil riset LAPI ITB, diketahui permintaan akan penumpang KCJB mencapai 61 ribu
penumpang per hari. Penurunan permintaan ini terjadi karena riset Polar UI didasari pada
kondisi pandemi Covid-19 dan dampak turunan lainnya yang berimbas pada turunnya
mobilitas warga.
“Tim dari Polar UI sudah melakukan riset Demand Forecast KCJB. Hasilnya ada di angka 30
ribu penumpang per hari. Angkanya memang menurun dibanding riset dari tim LAPI ITB. Ini
disebabkan karena riset Polar UI sangat mempertimbangkan kondisi pandemi dan dampak
turunannya ,” ujar Presiden Direktur KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi.
Dwiyana mengaku, imbas dari pandemi Covid-19 terhadap Demand Forecast dapat dirasakan
hingga 5 tahun ke depan. Hal itu juga tergantung dengan kondisi pandemi di Tanah Air.
“Berdasarkan situasi pendemi saat ini, pengaruhnya terhadap prediksi penumpang KCJB bisa
saja dirasakan sampai 5 tahun ke depan. Perhitungan Demand Forecast yang terkini
menggunakan pendekatan serta asumsi pertumbuhan yang konservatif terutama di 5 tahun
pertama masa pengoperasian, dan tentu Kami terus berharap pandemi ini segera usai
sehingga mobilitas warga bisa kembali normal,” paparnya.
“Potensi pertumbuhan ekonomi kita cukup baik di tahun ini. Hal ini tentunya akan menjadi
harapan baru ke depan, walaupun dalam 5 tahun pertama pertumbuhan penumpang
diasumsikan kecil (konservatif) , namun di tahun berikutnya diharapkan akan ada masa

dimana mobilitas orang akan membaik seiring dengan menggeliatnya perekonomian kita
pasca covid ,” kata Dwiyana.
Disinggung soal dampak pemindahan ibukota terhadap penurunan Demand Forecast,
Dwiyana menjelaskan jika rencana pemindahan IKN pengaruhnya tidak begitu besar. Ini
disebabkan karena Jakarta masih akan menjadi pusat ekonomi, bisnis dan perdagangan dan
masih tetap menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Ditambah lagi adanya
pertumbuhan daerah industri di sepanjang Trase yang dilalui KCJB.
“Pemindahan IKN tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah penumpang mengingat Kota
Jakarta masih tetap menjadi kota perdagangan utama dan akan tetap mendorong
pertumbuhan ekonomi di sekitarnya,” ujarnya.


Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
Rahadian Ratry

Share

Facebook
Twitter
LinkedIn